Oct 29th, 2006 | Marriage, Personal, Travel | 2 Comments
Appetizer… Sebelum menikah, kami berangan-angan untuk mereguk hangatnya bulan madu di Pulau Lombok. Namun, apa daya ketika cicilan rumah makin tidak ramah dengan kantong kami… belum lagi ketika terpaksa membeli jet pump baru karena pompa tercinta kami tiba-tiba raib digondol maling… hiks… hiks….
Alhasil… tak ada salahnya jika pura-pura ber-honey moon dengan fasilitas kantor ha-ha-ha. Didit kebetulan mendapat dinas luar kota dengan destinasi: Kota Malang. Mumpung saya juga belum pernah ke sana… ya sudahlah berangkat dengan bayangan bakalan beromantis-romantis ria di kota yang sejuk itu.
Tapi??? Trust me: do not mix sex with business!!!
→ continue reading
Popularity: 10% [?]
2 Comments
Jul 23rd, 2006 | Marriage, Personal | No Comments
“saran-saran dari para tamu yang datang pada pernikahan kami”Kasih Mengalahkan Segalanya
Jiwa gelisah menjadi tentram karena kasih
Orang asing berubah menjadi kawan karena kasih
Dia yang jauh menjadi dekat karena kasih
Sungguh apa saja dapat Anda capai dengan kasih
Hati sekeras apa pun meleleh karena kasih
Berikan kasih
Sebarkan kasih
Hiduplah dalam kasih
Kasih Kristus adalah dasar hidup suami istri (Efesus 5:22-23)
Aku sudah nikah 14 tahun. Untuk mempertahankan keutuhan keluarga:
Saling mencintai, menerima apa adanya
Jujur
Saling membantu dan menghargai
Saling percaya, bila berantem salah satu mengalah.
Pasanganku bagaikan mas permata, biar masuk Lumpur tetap mas khodet. Kudoakan cinta Mbak Happy dan Mas Didit sampai akhir hayat.
→ continue reading
Popularity: 10% [?]
No Comments
Jul 23rd, 2006 | Marriage, Personal | 8 Comments
Mengapa kami memilih kalimat tersebut sebagai tema perkawinan? Ya memang keputusan menuju ke “perangkap” perkawinan itu kami rasakan sangat… mmm… apa ya kata yang tepat? Sangat tak terduga… (mungkin itu kata yang agak tepat menggambarkan kondisi itu).
Pertama , kami memang tidak terpikir untuk menikah. Didit sudah merasa jatuh cinta dengan pekerjaannya dan menjadi seorang workaholic kalau sudah berhadapan dengan benda mati bernama komputer. Sementara Happy merasa amit-amit kalau harus terikat dengan seorang pria dan menjadi seorang istri pada umumnya yang punya kewajiban melayani suami (baca: fobia komitmen).
→ continue reading
Popularity: 8% [?]
8 Comments
Jun 28th, 2006 | Marriage, Personal, Travel | 2 Comments
Satu cara menuju kematian yang paling nggak gue (Happy) sukai adalah mati tenggelam. Amit-amit… amit-amit…. Emang, sih, nggak ada yang bisa milih mau mati apa dan kapan. Tapi kalau boleh milih, sih, ya nggak di tengah air yang dalam. Pasalnya, gue nggak bisa berenang, jek. Dan nggak elit aja kayaknya kalau mayat ditemukan dalam keadaan menggelembung karena kandungan air di dalam tubuh berlebih… hehehehe… nggak cantik, ah… waktu hidup gue langsing, matinya jadi gendut.
Waktu pengambilan gambar untuk foto pre-wedding bersama puluhan teman dari fotografer.net di Kepulauan Seribu, mati tenggelam hampir saja terjadi pada kami.
→ continue reading
Popularity: 5% [?]
2 Comments