Jul 23rd, 2006 | Marriage, Personal | 8 Comments
Mengapa kami memilih kalimat tersebut sebagai tema perkawinan? Ya memang keputusan menuju ke “perangkap” perkawinan itu kami rasakan sangat… mmm… apa ya kata yang tepat? Sangat tak terduga… (mungkin itu kata yang agak tepat menggambarkan kondisi itu).
Pertama , kami memang tidak terpikir untuk menikah. Didit sudah merasa jatuh cinta dengan pekerjaannya dan menjadi seorang workaholic kalau sudah berhadapan dengan benda mati bernama komputer. Sementara Happy merasa amit-amit kalau harus terikat dengan seorang pria dan menjadi seorang istri pada umumnya yang punya kewajiban melayani suami (baca: fobia komitmen).
→ continue reading
Popularity: 8% [?]
8 Comments
Mar 28th, 2006 | Books, Personal | No Comments
Awalnya, buku ini diciptakan untuk suvenir perkawinan gue ama cowok gue (baca: kalo jadi ya…) karena di dalamnya ada beberapa penggal kisah kita berdua, seperti proposal cinta itu (trust me it’s real…). Namun, berhubung gue sendiri muak untuk membaca novel-novel yang bercerita tentang cinta-cintaan (apalagi yang berakhir dengan happy ending hehehe) akhirnya fokus cerita tidak hanya di situ saja, melainkan ke masalah-masalah lain, seperti pandangan gue tentang Tuhan, agama, dan kehidupan sosial lainnya. Nggak terlalu frontal, sih (meskipun bisa) karena… tahu-lah… hehe… akhirnya gue bungkus dalam satu cerita. Sowieso, setelah selesai membuat cerita ini gue merasa lega banget karena apa yang ada di dalam pemikiran gue bisa terakomodasi hahaha…
Popularity: 5% [?]
No Comments